Notice

Kepak Sayap Eagle

WhatsApp Image 2025 06 09 at 10.13.25 Kepak Sayap Eagle EAGLE

Eagle menjadi salah satu pemantik nyala api industri sepatu olahraga. Namun, perjalanan jenama ini penuh liku.
Kepada Fortune Indonesia (17/4), Presiden Direktur PT GF Indonesia, You Jong Min, mengisahkan kembali cikal bakal merek ini.

Tahun 1986, Eagle lahir di bawah bendera panji PT Garuda Indawa, anak usaha dari Korindo Group—konglomerasi besar yang kala itu dikenal lewat bisnis kehutanan. Muncul diskusi agar Korindo Group lebih berkontribusi terhadap industri manufaktur di Indonesia. Dus, dirintislah merek olahraga.

“Eagle semula berada di bawah naungan PT Garuda Indawa—anak usaha Korindo Group yang didirikan Seung Eun-ho,” ujar You.

“Kami ingin merek ini punya kekuatan seperti burung elang—simbol ketajaman visi dan kekuatan mencengkeram, diam-diam menyusuri langit pasar, tapi kuat, berani, dan tak mudah tumbang,” ujar You.

Medio 2000-an, badai datang. Pasar lokal mulai dipenuhi merek-merek internasional yang hadir dengan promosi besar dan citra keren. Logo swoosh dan tiga garis mulai menjadi simbol yang digandrungi di perangkat olahraga remaja kota. Di sisi lain, PT Garuda Indawa mulai kehilangan fokus. Pabrik tua, stagnannya strategi pemasaran, dan harga yang tak lagi kompetitif, membuat Eagle perlahan redup. Keberadaannya seolah hidup enggan, mati pun tak mau.

Hingga medio 2005, Mr. C. K. Song, Pendiri dan CEO KMK Group —perusahaan manufaktur sepatu yang memproduksi merek global—menemui Mr. Seung dan mengungkapkan niatnya mengakuisisi Eagle.

“Waktu itu Eagle sudah tidak terlalu diurus. Mr. Song bilang ke Mr. Seung ‘Saya mau dong beli brand kamu, Eagle.’ Dia melihat potensi di balik merek yang hampir mati,” kata You.

Proses negosiasi berlangsung cepat, sekitar enam bulan. Eagle resmi berpindah tangan ke KMK Group pada 2005. Seiring langkah itu, KMK Group mendirikan PT GF Indonesia sebagai entitas yang mengelola Eagle. You Jong Min atau yang dijuluki “Eagle One”, ditunjuk sebagai pemimpin pengembangan produk dan desain.

Di bawah kepemilikan baru, Eagle melakukan rebranding besar-besaran, termasuk pembaruan logo dan strategi pemasaran untuk mengembalikan posisi Eagle di pasar sepatu olahraga Indonesia. Tak hanya logo, lini produk ditata ulang dan yang paling penting—semangat baru ditanamkan di jantung perusahaan. “Sejak awal kami sudah tahu arah Eagle: running,” ujar You.

“Karena semua olahraga, pada dasarnya dimulai dari lari. Base of all sport is running. Itu kenapa kami memilih kategori ini. Saat itu belum banyak merek lokal yang serius masuk ke segmen ini.”


Memperkuat Strategi

Ia fokus untuk mengembangkan kategori badminton pada 2017. “Di Indonesia, bulu tangkis bukan sekadar olahraga, tapi bagian dari identitas nasional,” ujarnya. Eagle pun menjadikan bulu tangkis sebagai segmen strategis. Produk dirancang khusus sesuai kebutuhan atlet dan pemain amatir, sambil terus menjaga harga agar tetap terjangkau.

Pada 2015, perusahaan pernah rugi besar akibat kelalaian quality control (QC) di pabrik. Tak tanggung-tanggung, 5.000 pasang sepatu dikembalikan karena cacat produksi.

“Saya kirim 5.000 pasang sepatu seragam ke mitra bisnis. Tapi ada masalah: lem tidak kuat. Dalam sebulan, 15-20 pasang dikembalikan. Hingga akhirnya, seluruhnya dikembalikan,” ujarnya. “Saya bawa sepatu-sepatu itu kembali ke pabrik, lalu kami bakar di depan seluruh karyawan.”

Langkah itu bukan semata aksi teatrikal, tapi simbol tanggung jawab. “Agar mereka tahu, itu bukan sampah, itu uang,” ujarnya. Eagle kemudian mengganti seluruh produk dan mengirimkan kembali ke konsumen tanpa tambahan biaya—tentunya semua produk sudah dicek kembali agar tak mengulang kesalahan yang sama.

Kini, dengan strategi penjualan multi-kanal, dari e-commerce, mitra distribusi, hingga toko tradisional, Eagle kembali melangkah dengan hati-hati tetapi pasti. Mereka tak mau lagi kehilangan arah. “Kadang saya juga capek. Buat apa marah-marah?,” katanya. “Karyawan itu keluarga. Kalau saya marah, mereka sakit, saya juga sakit. Saya percaya bahwa bicara dari hati ke hati selalu lebih kuat dari teriakan.”

Prinsip tersebut diterapkan sejalan dengan kultur KMK Group: Human Touch Management. “Karena sepatu yang baik lahir bukan dari mesin saja, tapi dari hati orang-orang yang membuatnya,” katanya.

Pada 2022, You Jong Min ditugaskan untuk menangani pabrik KMK Group di Jawa Tengah. Posisi kepemimpinan diisi oleh Andreas Budi Wicaksono, Manager of Design Department—untuk sementara waktu—yang telah lama berkarier bersama Eagle. Pada Agustus 2024, You pun kembali menakhodai perusahaan. Ia datang dengan satu tekad—membangkitkan lagi semangat yang sempat redup. “Saya pelajari apa yang kurang, dan apa yang perlu dibangkitkan. Fokus saya sekarang adalah learning technology,” ujarnya.

Setahun terakhir, bisnis Eagle memang kembali menggeliat. Meski pasar belum sepenuhnya pulih, pendapatan mulai naik. “Kami belum balik ke angka normal sebelum pandemi, tapi tahun ini target kami naik 200 persen dibandingkan tahun 2024,” kata You.

Arah Baru

Dua hingga tiga kali setahun, mereka terbang mencari bahan baru, mempelajari teknik produksi, dan membawa pulang inspirasi.  “Sepatunya mungkin kelihatan sama di luar, tapi di dalam kami upgrade. Spons, sol, teknik lem, dan stitching kami perbarui,” katanya.

Namun, pasokan bahan baku tetap menjadi tantangan. Sekitar 50 persen material masih diimpor dari Cina, dengan kendala utama: waktu pengiriman. “Kadang bahan datang terlambat, rilis produk jadi mundur.”

Produk mereka sempat masuk ke Malaysia dan Thailand, meski akhirnya terhenti. Kini, mereka tengah menjajaki pasar Uni Emirat Arab. Namun ada dilema unik yang mereka hadapi.  “Banyak mitra luar negeri suka kualitas kami, tapi mereka minta logo Eagle diganti dengan brand mereka. Kami enggak mau. Eagle, ya, harus tetap Eagle. Di situ pride kami,” kataya.

“Kami ingin menyasar target pasar baru, yakni Gen Y dan Gen Z, yang kini merupakan kue yang sangat besar,” ujar You.

“Generasi sekarang, bahkan kita pun, merasa alas kaki itu bukan cuma pelindung kaki. Itu bagian dari gaya hidup. Sepatu bisa membuat orang percaya diri,” ujarnya.

Empowering Individual, bagi Eagle, bukan berarti menghadirkan produk mewah. Justru sebaliknya, membuat teknologi yang bisa diakses siapa saja. Memberikan rasa percaya diri melalui sepatu yang layak, nyaman, dan tetap terjangkau. “Kami ingin masyarakat Indonesia merasa pede pakai Eagle. Murah bukan berarti murahan. Itu yang ingin kami tekankan.”

Untuk mewujudkan visi itu, Eagle mengembangkan teknologi LEAP—sebuah sistem bantalan (cushioning) inovatif yang berfokus pada kenyamanan dan daya pantul. Teknologi ini hadir dalam dua produk andalan performance running yang dirilis pada 2025: Threshold, sepatu racing dengan pelat karbon, dan Alpha ST, sepatu pelatihan dengan pelat nilon. Keduanya ditawarkan di kisaran harga Rp800.000, sedikit lebih rendah dari sepatu lokal sejenis yang sudah menyentuh harga Rp900.000 hingga Rp1 jutaan.

“Produk ini kami kembangkan melalui riset di Jepang dan Korea Selatan,” ujarnya. You optimistis bisa mencapai target penjualan 100.000 pasang per bulan bahkan lebih untuk seluruh lini produk. Selain bermain di enam kategori sepatu, yakni badminton, running, lifestyle, futsal, tenis, dan back to school; Eagle juga mengembangkan apparel, aksesoris, dan sandal.

Tak hanya mengandalkan teknologi yang dikembangkan sendiri, Eagle juga menjalin kerja sama dengan merek AutoLite, penyedia sol ringan yang kini digunakan oleh banyak merek global seperti Nike dan Adidas. Kolaborasi ini menjadi sinyal bahwa Eagle ingin menyetarakan kualitas, tanpa kehilangan jati diri. “Kami sekarang enggak lagi benchmark ke merek lokal,” tegas You. “Kami berpacu dengan diri sendiri. Yang penting, konsumen kami merasa empowered.”

“Kami ada di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Makassar, dan tentu saja Jawa,” kata Andreas. “Di Papua pun kami masuk. Bisa dibilang, hampir seluruh wilayah Indonesia terjangkau.”

Meski medan bisnis semakin padat, Eagle menolak melihat sesama merek dalam negeri sebagai musuh. “Yang perlu ditekankan bukan persaingan antarpemain lokal, tapi edukasi kepada masyarakat agar tidak membeli sepatu palsu (KW),” ucap You. “Kita harus meyakinkan pasar bahwa merek lokal juga hebat.”

Ia tak ingin Eagle dikenal sebagai merek yang hanya mengejar keuntungan. Pasalnya, bukan hal yang sulit untuk memproduksi produk yang mudah dijual. “Tapi membuat produk yang punya makna, itu lebih penting. Kami ingin jadi brand Indonesia yang benar-benar peduli dengan Indonesia,” ujarnya, mengungkap legacy yang ingin abadi dalam ingatan kolektif: di antara sepatu-sepatu dunia di Indonesia, ada satu nama lokal: Eagle, yang membuat siapa pun bangga memakainya.

Membangun merek orang Indonesia agar tetap diingat bukan pekerjaan semalam. Tapi itulah cita-cita You Jong Min. “Saya enggak bicara 50 tahun ke depan,” katanya. “Cukup 20 tahun dari sekarang, saat saya sudah tua dan pensiun, saya ingin cucu saya pakai Eagle dan berkata: ‘Ini sepatu kakek saya dulu.’(artikel ini terbit pada majalah Fortune Indonesia edisi April 2025)